Judul buku : The Midnight Library (Perpustakaan Tengah Malam)
Penulis : Matt Haig
Genre :
Fiksi Fantasi
Jumlah Halaman :
367 Halaman
Penerbit :
Gramedia Pustaka Utama
Tahun Penerbitan :
2020
Bahasa : Inggris/Indonesia
Sinopsis
Diawali dari cerita Nora Seed yang memutuskan ingin melakukan percobaan bunuh diri karena ia merasa sudah tidak ada lagi alasan untuk tetap bertahan di dunia. Menurutnya jika ia mati, kehidupan di dunia terus berjalan, tidak ada siapapun yang memperhatikannya, dan semua akan baik-baik saja tanpanya. Namun ketika ia memutuskan untuk mati, alih-alih mengakhiri semuanya, tetapi ia malah terjebak di sebuah perpustakaan yang penuh dengan rak-rak buku.
Nora ditemani oleh seorang pustakawati yang bernama Mrs. Elm (penjaga perpustakaan di sekolahnya dulu) mengarahkannya di perpustakaan tengah malam tersebut. Lalu Mrs. Elm menjelaskan bagaimana cara kerja dari perpustakaan tengah malam ini, ada banyak kehidupan lain yang mungkin bisa Nora rasakan melalui buku tersebut. Dalam hal ini, perpustakaan tengah malam memberikan kepada Nora kesempatan untuk mencari kehidupan yang terbaik versi dirinya sendiri. Dari buku-buku tersebut Nora sudah menjalani banyak kehidupan lain yang berbeda-beda, dimulai dari Nora menjadi orang miskin, kaya, dikenal banyak orang, atau biasa-biasa saja. Nora juga bertemu dengan orang-orang yang berbeda di setiap kehidupannya dan bertemu dengan orang yang ia kenal di kehidupannya saat ini.
-------
Menurutku, gaya penulisan Matt Haig dalam buku ini meskipun diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia cukup bisa untuk dimengerti. Menggunakan sudut pandang orang ketiga yang menjelaskan secara detail bagaimana proses Nora berpindah-pindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain dengan gaya penulisan yang ngalir, meskipun agak membuat kebingungan namun buku ini membuat para pembaca, khususnya aku tidak merasa bosan dan berhasil membuat aku masuk dalam dunianya Nora.
Karakter pribadi Nora yang sangat relate dengan generasi muda sekarang seperti quarter life crisis yang tidak memiliki arah, bingung akan siapa dirinya, dan selalu khawatir akan masa depannya membuat sifat Nora yang mudah putus asa tersebut semakin menjadi-jadi. First impression aku dari membaca buku ini dimulai dari covernya yang kreatif, alur cerita yang tidak membosankan, perasaan sedih dan senang bercampur menjadi satu, dan banyak hal lain yang bisa dikagumi dari buku ini.
Banyak pelajaran yang bisa diambil dari buku ini, di dalam perjalanan kehidupan yang membuat kita dihadapi oleh berbagai persoalan dan ujian membuat kita terkadang berada di posisi seperti Nora yang tidak mempunyai jalan keluar atau solusi dari persoalan kehidupan tersebut. Menurut aku, pesan utama yang ingin disampaikan oleh Matt Haig dalam buku ini sekaligus menjadi reminder adalah terkadang kita sangat mudah untuk berharap menjalani kehidupan seseorang yang kelihatannya perfect dalam segi apapun atau ingin berharap dengan keputusan akhir yang berbeda, tetapi sebenarnya kehidupan yang terbaik untuk dijalani adalah kehidupan kita yang sekarang ini. Bagaimana pun juga, kita tidak bisa sepenuhnya mengendalikan keputusan akhir yang berbeda dari setiap perjalanan kehidupan.
Rating untuk kategori buku fiksi fantasi ini adalah 5/5 karena perasaan pada saat membaca membuat ingin membaca ulang kembali, banyak pelajaran hidup dari pengalaman Nora yang bisa di implementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan banyak quotes yang bisa dijadikan reminder. Selain itu, karena buku ini menang dalam goodreads choice award yang membuat aku yakin memberikan rating 5/5 ini.
0 Komentar
Terima kasih sudah berkunjung, Sobat Kira! Gunakan bahasa yang baik dan bijaklah dalam berkomentar.
Yuk, kirim tulisan kamu ke blog Kita Literasi!