Judul : The Things You Can See Only When You Slow Down - How to be Calm in a Busy World
Jenis Buku : Non Fiksi – Self Improvement
Penulis : Haemin Sunim
Penerjemah : Daniel Santosa
Penyunting : Katrine Gabby Kusuma
Artwork : Youngcheol Lee
Penerbit : POP, imprint Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : 265 halaman
Dimensi Buku : 13,5 cm x 18 cm
“Apakah memang dunia yang terlalu sibuk, atau malah batin saya?”
Dunia bergerak dengan cepat, tetapi tidak berarti kita juga harus begitu. Melalui buku ini, guru meditasi Zen Haemin Sunim mengajak kita untuk menyadari bahwa ketika melambatkan diri, dunia juga akan melambat bersama kita. Pesan-pesan singkat Haemin Sunim—yang ditulis untuk menjawab pertanyaan di media sosialnya—menyasar kepada kekhawatiran manusia yang sudah menjadi bagian dalam kehidupan modern. Bersama-sama kita akan mencari jalan menuju keseimbangan dan kedamaian batin di tengah berbagai tuntutan hidup sehari-hari lewat hal-hal sederhana, seperti beristirahat dan membangun hubungan baik antar manusia.
The Things You Can See Only When You Slow Down sudah terjual lebih dari 3 juta eksemplar di Korea Selatan dan menduduki peringkat pertama buku terlaris selama 41 minggu berturut-turut.
***
The Things You Can See Only When You Slow Down karya Haemin Sunim ini sudah terjual lebih dari tiga juta eksemplar lho Sobat Kira! Memuat topik-topik yang sangat universal dan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari yang bikin pembacanya—terutama Mintera—nyeletuk, “Oh my god, relate banget!”. Penggunaan bahasa yang sangat ringan dan mudah dimengerti yang membuat Mintera merasa ngalir banget saat membaca buku ini dan juga membuat Mintera menjadikan buku ini sebagai comfort book versi Mintera. Tiap kalimatnya pendek, berbobot—bukan sekadar bunyi—namun menenangkan dan menyentuh hati dengan ilustrasi yang aesthetically pleasing to the eye. Maka tak heran jika buku ini menjadi salah satu buku self-improvement terfavorit di kaum milenial! Setiap halaman yang terdapat dalam buku ini selalu dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang membuat Mintera lebih open-minded dengan topik yang sedang dibahas, lebih bersyukur dengan hal-hal kecil yang ada di hidup Mintera, membuat pikiran dan perasaan damai ketika membaca satu per satu halaman dalam buku ini, sehingga Mintera berusaha untuk pelan-pelan bacanya agar tidak cepat selesai hehe.
Di zaman sekarang sedang marak FOMO alias Fear of Missing Out yaitu perasaan selalu ingin merasa menang yang membuat kita terus mendorong diri kita untuk melakukan hal-hal yang orang lain lakukan agar tidak tertinggal oleh yang lain, tetapi setelah Mintera membaca halaman 206 yang berbunyi “ … Hidup bukanlah suatu perlombaan lari seratus meter melawan orang lain, melainkan maraton seumur hidup melawan diri sendiri. Alih-alih memfokuskan diri untuk menyalip orang lain, lebih baik temukan keunikan kita terlebih dahulu.” Mintera sadar kalau tidak apa-apa jika kamu tidak seperti orang lain, tidak apa-apa tertinggal, it’s fine, it’s totally fine. Seperti judul bukunya, terkadang ada hal-hal yang dapat kita lihat jika kita ‘melambat’.
Dan pada halaman 52 terdapat quotes yang berhasil memberikan Mintera tamparan keras, yaitu “Jangan meratapi dunia yang telah berubah. Jangan membenci orang yang sudah berubah. Menilai keadaan sekarang melalui kenangan masa lalu bisa membuat sedih. Suka atau tidak, perubahan tidak dapat dihindari. Sambut dan terimalah perubahan.” yang membuat Mintera sadar kalau people and things change, people come and go, that’s a fact of life, tidak ada yang bisa dan perlu disalahkan, hal yang bisa kita lakukan adalah menerimanya, because life must goes on.
Ketika membaca buku ini, Mintera banyak sekali mendapatkan insight tentang cara mengikhlaskan dan berdamai dengan masa lalu, bersyukur dengan hal-hal kecil, menerima dan jujur kepada diri sendiri, tidak perlu terlalu overthinking tentang apa yang dipikirkan orang lain tentang kita, dan masih banyak lagi insight yang sangat relevan dengan kehidupan. Saat membaca buku ini Mintera merasa seperti sedang melakukan dialog dengan psikolog, dimana Mintera seperti mendapatkan pencerahan dan suntikan energi positif setelah membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, halaman demi halaman. Bagi Mintera, setiap kalimat yang ditulis adalah magnet yang mampu menarik energi negatif yang terdapat dalam diri Mintera. Haemin Sunim berhasil menyentil Mintera bahwa sebenarnya muara ‘sibuk’ itu ada hanya bersarang di batin dan di pikiran kita saja karena faktanya kita punya kendali penuh untuk mengelolanya. Mintera jadi bisa melihat hal-hal di sekitar dengan lebih jernih, tidak hanya dengan mata, melainkan dengan hati juga.
So this is the end of my review ya, Sobat Kira! Buku ini Mintera rekomendasikan bagi Sobat Kira yang sedang merasa overwhelmed, yang sedang berada di suasana hati yang buruk dan perlu diingatkan untuk lebih bersyukur dengan segala hal yang ada di hidup, mengikhlaskan dan berdamai dengan masa lalu, menerima dan jujur kepada diri sendiri, this book is for you! Yang akan membantu Sobat Kira untuk menenangkan hati dan pikiran serta membuat Sobat Kira semakin kuat dalam menjalani kehidupan dan juga memberikan kalian kekuatan dalam mengatasi rasa kecewa. And this is the type of book I will read over and over again without a doubt.
Penulis: Zakia Noorardini (Kia)
1 Komentar
👍🏻👍🏻👍🏻
BalasHapusTerima kasih sudah berkunjung, Sobat Kira! Gunakan bahasa yang baik dan bijaklah dalam berkomentar.
Yuk, kirim tulisan kamu ke blog Kita Literasi!